Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘lagi curhat’ Category


Dan jika ada satu hal saja yang dapat menggambarkan hal itu mungkin bisa sedikit mengurangi ketegangan dan mengubah ketidakyakinan menjadi suatu keyakinan yang sangat,

Dan setiap orang akan menganggap suatu kejadian dimana pemilihan sederet keputusan yang rumit dan perlu pertimbangan akan hal itu, -(( memilih salah seorang ))- dan kita jadikan orang yang paling dekat dan paling kita sayangi setelah TUHAN dan keluarga adalah sebuah keputusan yang kurang tepat dan sebagian orang diluar diri kita menganggap itu sebagai sebuah keserakahan. ketiak banyak pilihan kita punya dan mencoba menggali apa yang harus kita tahu dari sisi seseorang dan kita namakan itu sebuah proses penjajakan. Satu hal telah terjadi ketika penjajakan yang kita lakukan ternyata menghadapi sebuah kondisi dimana tidak memungkinkan bagi kita untuk melanjutkannya, atau sementara meundanya, lalu kita berpinda dari channel satu ke channel yang lain. Itukah yang dinamakan dengan “Ketidak SETIAAN” ? dan sebuah pelanggaran? sehingga kita pantas untuk dipergunjingkan?

Lalu ketika kita menggemari dan sedang menjajaki sebuah pakaian yang terlihat bagus dan cukup layak unutk kita kenakan serta membuat kita memiliki cukup banyak alasan  untuk kita jadikan pemantas kita dan menemani kita kemanapun kita pergi agar kita lebih percaya diri dan menuntaskan “Sunnah”yang telah Pemimpin kita gariskan kepada kita, yang sanggup menemani kita kala kita merasa kehausan dikala terik, yang mampu memeberikan ksejukan dalam waktu yang bersamaan, dan menghangatkan kita dikala kita kedinginan, dan melengkapi suka-cita kita dikala kita merasakan limpahan rahmatnya.

Maaf intermezonya terlalu panjang, Lalu pertanyaannya..

Apa arti dari sebuah kesetiaan di ranah substansial yang kadang teori itu tak cukup berguna dan hanya sebagai “malaikat yang ikut tersiksa di dalam neraka”?. Dan memang basicnya manusia tak pernah bisa setia jangankan untuk hal besar “pasangan” untuk hal-hal kecil saja mereka sering merusak dan mengabaikan kesetiaannya. Lalu apa itu sebuah kesetiaan?

Apakah sebuah kebanggaan dapat menjaga komitmen?, ataukah hanya sbeuah penghambaan dan rasa sukur telah mendapatkan hal yang satu dan sudah merasa puas?.

Satu yang pasti tidaklah pantas kita sebagai sesuatu yang “Nothing” mendewakan kesetiaan dan menganggap ketidaksetiaan sebagai aib, yang sehingga dengan aib yang sudah orang buat membuat kita memiliki banyak alasan untuk menghukum dia dangan ego kita dan memberikan cap negatif terhadapnya, dan pada nyatanya ketika kita menjudgeorang seperti itu, kita sudah melanggar kesetiaan kita terhadap komitmen kita sendiri, percayalah.

Kesetiaan yang sempurna adalah IMAN, dan komitment dari RAHMAT TUHAN (ALLAH) yang selalu ada di garis awal kehidupan kita, dan sesungguhnya dari setiap siksa TUHAN itu selalu diawali dengan Rahmat-NYA.

Dan Sayalah “Nothing” dan kamu “Everythings

Sejauh mana kita bisa setia dengan “cinta” yang tidak atau belum kita miliki,,,

dan jika ada satu hal saja yang dapat menggambarkan hal itu mungkin bisa sedikit mengurangi ketegangan dan mengubah ketidakyakinan menjadi suatu keyakinan yang sangat,

In My opinion

 

Iklan

Read Full Post »


Did you know? tidak ada yang pintar dan tidak ada yang bodoh.
dalam hal kehidupan sebenarnya manusia tidak dibedakan berdasarkan prestasi “pintar” dan “bodoh“, karena pada dasarnya manusia itu adalah mahluk yang tidak statis dan cenderung begitu-begitu saja.manusia merupakan mahluk paling dinamis dengan kemampuan belajar adan beradaptasi paling baik dibandingkan dengan mahluk lainnya yang ada di bumi. manusia memiliki kemampuan untuk menagtu ran mengarahkan disinya sendiri ke arah apa yang dia mau. jadi pada intinya manusia selalu memiliki kemampuan untuk mengarhkan dan membenntuk dirinya menjadi manusia seutuhnya, yang memiliki kemampuan berpikir deawasa dan mempu menjawab semua tantangan yang dia hadapi. dan ukuran akn hal itu populer orang katakan sekarang adalah sebagai “orang pintar“. Sebenarny jika kita tahu bahwa sesungguhnya kita selalu diberi kelebihan selain kekurangan yang jelas, kekurangan itu bukan lah bodoh. dan “Bodoh itu bukan karakter tapi sederatan pilihan- pilihan sehingga kita diberikan ukuran dengan kata tersebut”. Percayala ukuran itu sebenarnya bisa kita bentuk dengan sedikit rajin berlatih dan pemmbiasaan diri.maka jadilah pendidik yang bisa mendidik tidak harus untuk osrang lain tapi mendidik hasrat diri sendiri agar dapt berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya “manusia“. Bukan hanya sekedar manusia tapi “manusia  seutuhnya” yang memiliki keimanan, ketakwaan, kejujuran, kecardasan, kemampuan untuk mengendalikan diri, komitmen yang kuat serta integritas. Dari apa yang sudah kita bahsa barusan hanyalah sebuah alur yang akan mengenalkan kita pada sosok masusia sesungguhnya dimana manusia itu tidak diciptakan untuk pintar dan bodoh, namun semua diciptakan untuk membentuk dirinya sendiri. Yang memebedakan manusia pada hakikatnya adalah bukan pintar dan bodoh, namun rajin dan tidak rajin.

Maka bagi anda yang merasa diri anda pintar dan merasa diri anda beruntung dan lebih beruntung, berhentilah men “judge” orang lain yang tidak lebih dari kita itu seorang bodoh, karena tidak ada yang DIA ciptakan sebagai manusia yang bodoh, hanya saja dalam kitab tersucinya dia menyebutkan orang bodoh itu adalah yang tidak bisa memilih jalannya sendiri menuju kebahagiaan yang nyata.

to be continued …

Read Full Post »

Aku dan Malaikat


Ketika saya termenung sendiri di tengah-tengah keramaian yang tidak sedikitpun saya rasakan. saya teringat situasi serupa yang kemudian terulang di saat ini. Saat itu tiba-tiba datang kepadaku sesosok makhluk dengan jubah hitam pekat yang menutupi wujudnya. ketakutan yang saat itu menggunung kemudian lenyap ketika ia meyakinkanku bahwa malaikatlah yang yang sedang berhadapan dengan ku. Kebingunganpun kemudian merasuk dan menguasai pikiranku, dan tanpa berfikir terlalu panjang akupun bertanya kepadanya,

“jika engkau benar malaikat, lalu kenapa engkau mengenakan jubah hitam yang begitu pekat, tanpa warna putih sedikitpun dan tak ada sayap di tubuhmu?”

Dia kemudian tersenyum dan berkata,

aku hanya tidak ingin manusia kemudian menilai bahwa setiap yang berpakaian putih adalah malaikat. Aku hanya ingin mengubah pemikiran manusia bahwa kebaikan itu tidak mengenal warna. Aku menyukai hitam karena mereka begitu kokoh dan tak ternoda

Lalu kenapa juga aku harus memiliki sayap, karena sesungguhnya bukan sayapmu yang bisa membawa hatimu terbang  melintasi cakrawala dan menembus surga

Read Full Post »


Seorang teman baik mendatangiku dan berkata,

“Aku merasakan kebingunan hingga aku sendiri tidak tahu apa yang membingunganku. Aku menginginkan sebentuk cinta yang bisa memberika sedikit makna pada hidupku yang sepi. Bantu aku mengisi pikiranku yang tengah sesak oleh kegelisahan. Ceritakan padaku sedikit keindahan cinta yang engkau yakini. Berbagilah denganku makna hidup sebagaimana yang selama ini pernah engkau berikan makna terhadapnya. Aku ingin mencoba menyelami pikiranmu dan berjalan menikmati perasaanmu hingga aku mengenali apa yang ada pada dirimu sebagaimana aku mengenalmu. Dan aku ingin mengenal diriku sebagaimana engkau mengenal dirimu sendiri”

Aku hanya mampu terdiam dan memamdang panorama batinku sendiri yang tak cukup subur untuk menjadi rumah bagi pohon-pohon dan bunga-bunga. Mancoba bersahabat dengan diriku yang terus mendesak menginginkan kedamaian, mencoba menenangkan batinku yang tampak memiliki keirian terhadap sesuatu dalam diriku yang memiliki kebebasan.

“Teman, sebaiknya jangan pernah engkau dengarkan kata-kataku tentang cinta karena aku tidak tahu apa itu cinta. Bagiku cinta jauh melewati level abstrak yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jangan dengarkan kata-kata orang yang pernah dilukai oleh perasaannya sendiri seperti diriku karena engkau tidak akan pernah mendapatkan apa yang engkau cari.

Aku hanya mencoba tertawa diatas penderitaanku sendiri karena hanya itulah cara untuk menghiburku. Aku bahkan terlalu menikmati mimpiku yang begitu indah yang diselimuti musim semi dan kicauan burung-burung yang memberikan harmoni di jiwaku yang membuat aku enggan untuk terbangun dan menghadapi kenyataan yang terlalu pahit untuk aku nikmati.

Lihatlah jauh kedalam mataku ketika aku sedang tersenyum dan kau akan melihat tangisan kehampaan. Jika kemudian aku menari, itu adalah tarian tak berbentuk terserah orang mengganggapnya seperti apa.

Jika kemudian engkau ingin mendapatkan apa yang kau inginkan, janganlah menginginkannya karena engkau sekali-kali tidak akan pernah mendapatkannya. Jika kau menginginkan seseorang mencintaimu seperti apa yang ada dibenakmu, lupakanlah keinginan itu, kuburlah, benamkan jauh di dasar jiwamu.

Pernahkah kamu melihat betapa indahnya tatanan semesta yang begitu harmonis? Mereka begitu teratur dengan segala ketidakteraturannya. Mereka begitu sempurna dengan segala ketidaksempurnaannya. Pahamilah itu dan engkau akan menemukan jawaban dari segala pertanyaanmu. Dan jika engkau telah menemukan jawabannya, engkau akan sadar bahwa engkau tidak akan pernah menemukan jawabannya”

Read Full Post »


 

Ketika sesosok pribadi tidak mengizinkan dirinya untuk bermimpi, maka sesungguhnya dia telah mengikat mati semua tangan, kaki, tubuh, nyawa serta kehidupannya, dan ketika itu terjadi maka seseungguhnya “The Game Was Overed” dan dia sungguh telah kehilangan kehidupannya.

Pernah suatu ketika saya lemparkan kata-kata ini, maka sahabat saya berkomentar bahwa kehidupan yang seprti itu sebenarnya hidup tapi tidak hidup. Mereka banyak terkungkung batasan keangkuhan dan intuisinegatif yang mendorong mereka melakukan dan berfikir seolah mereka tuhan dan “DAPAT MEMASTIKAN (PREDIKSI PASTI) AKAN SUATU HAL” pdahal tidak demikian, mimpi iitu datang bagi mereka yang punya harapan, mimpi itu datang bagi mereka yang punya Visi dan tidak lekas menyerah pada Prediksi Kepastian Takdir. Mimpi itu gratis, bermimpi itu bebas bermimpi itu bebas nilai bermimipi itu baik Selama mimpinya masih dilandasi Pagar-pagar Keyakinan dan pengetahuan tentang Tuhannya.
Pernah suatu ketika saya beradapada kondisi positif thinking akan suatu hal yang mesti diwujudkan bersa (lebih…)

Read Full Post »

Apapun itu, terserah


Apapun itu, memang terlalu berat untuk selalu kubawa setiap kali aku hendak melangkahkan kaki, tapi tak bisa juga aku simpan walau untuk sekejap karena telah terpahat dalam benakku dan terukir dalam pikiranku. Tepat saat itu aku memang ragu pada argumenku yang telah kulayangkan walau tanpa merpati dan tanpa sayap. Kemudian aku merasa seakan dunia mencekikku, dan aku semakin kecil hingga tak lagi mampu terlihat oleh mata. Tapi jauh di alam bawah sadarku, kutekankan bahwa ini adalah karunia yang tak akan memberi sengsara pada segala yang menjunjungnya.

Kuyakini benar telah terjadi kesalahan dalam definisi sebenarnya yang kemudian berimbas pada aplikasi yang terlihat mata dan terasa oleh hati yang dibayangi keraguan.

Apakah kemudian aku mendapatkan dua kesalahan sekaligus ketika aku kemudian merasa benar?

Tidak usah juga aku bercermin, karena tidak ada cermin yang bisa merefleksikan apa yang terjadi saat ini. Jelas memang, tak akan pernah ada yang tahu jawaban dan kepastian dari semuanya, tidak aku, kamu atau mereka. Dan memang tak ada benarnya memaksakan kehendak terhadap seseorang yang lain dan tak patut untuk disalahkan  jika tak menuruti apa yang diragukan karena tak tertulis dengan pasti.

Apapun itu, aku kemudian hanya bisa bertanya pada segumpal darah di dalam tubuhku

Read Full Post »

Rasaku


Rasa sayang ini tak tak pernah ku minta sebelumnya. Ku hanya menjalani hidup layaknyaknya manusia biasa. Waktu terus berjalan, hari terus kulalui, namun rasa itu selalu menuntunku pada kegundahan yang mungkin sebagian orang tak mengerti, atau tak ada yang akan mengerti!

Pengetahuanku terus berkembang, memahami semua yang terjadi, hingga suatu saat dalam waktu yang lama aku menemukan jawaban semua dari kegundahan itu. Tak bisa aku sanggah lagi rasa yang timbul adalah suatu anugrah dari SANG Pencipta yang harus aku jalani.  Pahit kah, atau manis kah rasa itu kujalani, aku tak tau?

Hingga pada waktu yang salah aku mengutarakan semua rasa tersebut, tidak sedikitpun terlintas rasa sesal dibenaku, namun aku ya

kin semua akan menjadi baik dan pada waktunya akan menjadi indah..
Rasa ini terus kupelihara hingga aku takut untuk kehilangan semua.

terlalu egois kah aku? hingga harus memaksakan kehendakku, namun aku sadar satu hal, rasa itu tidak dapat di paksakan, kita hanya bisa memberi, tak peduli apa yang kita dapat.

Begitu besar rasa ini hingga aku tidak merasakan perubahan, perhatian, kepekaan, dan sinyal-sinyal yang diberi. Maafkan aku, karena rasa ini aku menjadi buta akan semua itu, padahal semua itu sangat berarti bagi kehidupanku,,,

Terimakasih sudah mengingatkanku agar semua menjadi lebih baik.

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: