Feeds:
Pos
Komentar

Hampir semua orang pernah mendengar ungkapan “perbedaan adalah rahmat”, tapi berapa orang yang kemudian bisa meresapi dan dan membuat ungkapan itu menjadi lebih bermakna, tidak sekedar  hiasan mulut semata?

Tak jarang kita men-judge salah kepada orang yang pendapatnya atau bahkan prinsipnya berbeda dengan kita. Kecenderungan manusia memang akan selalu menganggap benar atau membenarkan setiap sikap ataupun perilaku dirinya sendiri, karena memang pada dasarnya tidak ada satupun manusia yang mau disalahkan, akibat fatalnya kemudian adalah ketika seseorang mulai menyalahkan orang lain ketika memiliki kecenderungan yang berbeda dengan dirinya.

“Seseorang mulai kemudian kesalahan besar ketika dia mulai menyalahkan orang lain”, kata-kata yang sangat indah menurut saya pribadi. Secara disadari atau tidak, menyalahkan orang lain atau menganggap orang lain salah sudah menjadi sebuah hoby yang bahkan terkadang kita sendiri tidak menyadari ketika melakukannya.

Ketika kita menganggap orang lain salah,  pikirkanlah terlebih dahulu siapa diri kita, pantaskah kemudian kita menjatuhkan label “salah” seseorang?

“Jangan pernah menyalahkan orang lain karena tidak ada seorang pun yang sepenuhnya benar dan tidak ada seorang pun yang sepenuhnya salah”

Iklan

Kadang bergerak dengan diam itu sangat menyakitkan, tapi seorang “angin” saja selalu tak menampakkan diri apa bila dia ingin dirasakan, itulah aku dan hidupku, diamku dan pelarianku adalah sebentuk ekspresi ketidakberdayaan dari apa yang aku inginkan secara esensial tapi nyatanya aku hidup di duania yang serba substansial.‘Kamu’ akan tetap menjadi kamu yang selamanya tada akan pernah aku hapus dan tidak akan pernah aku hindari. ‘Akulah esensial dan kamu tetapakan jadi substansial dan ‘Aku’ selalu berhadapan dengan substansi yang dimiliki sekarang akan membereikan sedikit ketenangan akan adanya ‘kamu’ disana dengan substansi yang kamu milikiaku harap suatu hari ‘Kamu’ akan temukan jawaban tentang laku‘ku’ dan atas apa yang terjadi selama ini.


‘aku’
dan ‘kamu’



Dan jika ada satu hal saja yang dapat menggambarkan hal itu mungkin bisa sedikit mengurangi ketegangan dan mengubah ketidakyakinan menjadi suatu keyakinan yang sangat,

Dan setiap orang akan menganggap suatu kejadian dimana pemilihan sederet keputusan yang rumit dan perlu pertimbangan akan hal itu, -(( memilih salah seorang ))- dan kita jadikan orang yang paling dekat dan paling kita sayangi setelah TUHAN dan keluarga adalah sebuah keputusan yang kurang tepat dan sebagian orang diluar diri kita menganggap itu sebagai sebuah keserakahan. ketiak banyak pilihan kita punya dan mencoba menggali apa yang harus kita tahu dari sisi seseorang dan kita namakan itu sebuah proses penjajakan. Satu hal telah terjadi ketika penjajakan yang kita lakukan ternyata menghadapi sebuah kondisi dimana tidak memungkinkan bagi kita untuk melanjutkannya, atau sementara meundanya, lalu kita berpinda dari channel satu ke channel yang lain. Itukah yang dinamakan dengan “Ketidak SETIAAN” ? dan sebuah pelanggaran? sehingga kita pantas untuk dipergunjingkan?

Lalu ketika kita menggemari dan sedang menjajaki sebuah pakaian yang terlihat bagus dan cukup layak unutk kita kenakan serta membuat kita memiliki cukup banyak alasan  untuk kita jadikan pemantas kita dan menemani kita kemanapun kita pergi agar kita lebih percaya diri dan menuntaskan “Sunnah”yang telah Pemimpin kita gariskan kepada kita, yang sanggup menemani kita kala kita merasa kehausan dikala terik, yang mampu memeberikan ksejukan dalam waktu yang bersamaan, dan menghangatkan kita dikala kita kedinginan, dan melengkapi suka-cita kita dikala kita merasakan limpahan rahmatnya.

Maaf intermezonya terlalu panjang, Lalu pertanyaannya..

Apa arti dari sebuah kesetiaan di ranah substansial yang kadang teori itu tak cukup berguna dan hanya sebagai “malaikat yang ikut tersiksa di dalam neraka”?. Dan memang basicnya manusia tak pernah bisa setia jangankan untuk hal besar “pasangan” untuk hal-hal kecil saja mereka sering merusak dan mengabaikan kesetiaannya. Lalu apa itu sebuah kesetiaan?

Apakah sebuah kebanggaan dapat menjaga komitmen?, ataukah hanya sbeuah penghambaan dan rasa sukur telah mendapatkan hal yang satu dan sudah merasa puas?.

Satu yang pasti tidaklah pantas kita sebagai sesuatu yang “Nothing” mendewakan kesetiaan dan menganggap ketidaksetiaan sebagai aib, yang sehingga dengan aib yang sudah orang buat membuat kita memiliki banyak alasan untuk menghukum dia dangan ego kita dan memberikan cap negatif terhadapnya, dan pada nyatanya ketika kita menjudgeorang seperti itu, kita sudah melanggar kesetiaan kita terhadap komitmen kita sendiri, percayalah.

Kesetiaan yang sempurna adalah IMAN, dan komitment dari RAHMAT TUHAN (ALLAH) yang selalu ada di garis awal kehidupan kita, dan sesungguhnya dari setiap siksa TUHAN itu selalu diawali dengan Rahmat-NYA.

Dan Sayalah “Nothing” dan kamu “Everythings

Sejauh mana kita bisa setia dengan “cinta” yang tidak atau belum kita miliki,,,

dan jika ada satu hal saja yang dapat menggambarkan hal itu mungkin bisa sedikit mengurangi ketegangan dan mengubah ketidakyakinan menjadi suatu keyakinan yang sangat,

In My opinion

 


Did you know? tidak ada yang pintar dan tidak ada yang bodoh.
dalam hal kehidupan sebenarnya manusia tidak dibedakan berdasarkan prestasi “pintar” dan “bodoh“, karena pada dasarnya manusia itu adalah mahluk yang tidak statis dan cenderung begitu-begitu saja.manusia merupakan mahluk paling dinamis dengan kemampuan belajar adan beradaptasi paling baik dibandingkan dengan mahluk lainnya yang ada di bumi. manusia memiliki kemampuan untuk menagtu ran mengarahkan disinya sendiri ke arah apa yang dia mau. jadi pada intinya manusia selalu memiliki kemampuan untuk mengarhkan dan membenntuk dirinya menjadi manusia seutuhnya, yang memiliki kemampuan berpikir deawasa dan mempu menjawab semua tantangan yang dia hadapi. dan ukuran akn hal itu populer orang katakan sekarang adalah sebagai “orang pintar“. Sebenarny jika kita tahu bahwa sesungguhnya kita selalu diberi kelebihan selain kekurangan yang jelas, kekurangan itu bukan lah bodoh. dan “Bodoh itu bukan karakter tapi sederatan pilihan- pilihan sehingga kita diberikan ukuran dengan kata tersebut”. Percayala ukuran itu sebenarnya bisa kita bentuk dengan sedikit rajin berlatih dan pemmbiasaan diri.maka jadilah pendidik yang bisa mendidik tidak harus untuk osrang lain tapi mendidik hasrat diri sendiri agar dapt berjalan sesuai dengan sebagaimana mestinya “manusia“. Bukan hanya sekedar manusia tapi “manusia  seutuhnya” yang memiliki keimanan, ketakwaan, kejujuran, kecardasan, kemampuan untuk mengendalikan diri, komitmen yang kuat serta integritas. Dari apa yang sudah kita bahsa barusan hanyalah sebuah alur yang akan mengenalkan kita pada sosok masusia sesungguhnya dimana manusia itu tidak diciptakan untuk pintar dan bodoh, namun semua diciptakan untuk membentuk dirinya sendiri. Yang memebedakan manusia pada hakikatnya adalah bukan pintar dan bodoh, namun rajin dan tidak rajin.

Maka bagi anda yang merasa diri anda pintar dan merasa diri anda beruntung dan lebih beruntung, berhentilah men “judge” orang lain yang tidak lebih dari kita itu seorang bodoh, karena tidak ada yang DIA ciptakan sebagai manusia yang bodoh, hanya saja dalam kitab tersucinya dia menyebutkan orang bodoh itu adalah yang tidak bisa memilih jalannya sendiri menuju kebahagiaan yang nyata.

to be continued …


Pada dasarnya pada setiap diri manusia akan ada selalu rasa ingin mengetahui apa yang bukan menjadi urusannya, tak percaya? kita buktikan.
Setiap kita berhadapan dengan orang, bahkan ketika orang itu tidak kita kenal. akan selelu muncul pertanyaan, apa? mengapa dia begitu? dan apa yang sedang dia pikirkan?, pertanyaan itu akan sentiasa muncul ketika kita berhadapan dengan orang lain baik yang kita kenal maupun tidak.
Jadi dengan kata lain selain kodrati dan alami setiap individu itu ingin selalu ikut dan merasakan dan ingin cukup tahu apa yang orang lain sedang alami dan rasakan. Dan secara tidak langsung itu menggambarkan bahwa orang itu memiliki kecenderungan ingin ikut berbagi dan di bagi meskipun dalam hal keci sekalipun.

Coba lihat lebih dalam kedalam diri kitqa sendiri, coba buktikan dari konsep yang saya utarakan barusan. Lalu  kita lihat apakah hal itu memang merupakan kebenaran atu hanya sebuah gambaran dari ilusi saya sebagai seorang yang suture.

Selain ingin dibagi dan setiap individu juga selalu memilki kecenderungan ingin membagi. meskipun pada kenyataannya yang dibagi juga terkadang tak ingin dibagi hal tersebut. api uniknya dengan kebesaran Tuhan Yang Maha ESa membentuk dan menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga apa yang teman berbaginya rasakan sebagaian besar feel nya tidak bisa dia rasakan (itu menghindari kemungkinan untuk setiap individu yang ingin berbagi merasa lebih sakit hati). SUBHANALLAH, itu lah Tuhan semesta alam yang maha mengatur segala hal sampai pada hal terkecil yang kadang luput dari kepekaan mahluknya.
Lagi-lagi apa yang saya bahas terlalu melebar, dan ini sebuah intinya. Pada dasarnya selain ingin mendengar setiap orang juga ingin di dengar, sejalan dengan yang abraham Maslow katakan, dalam setiap individu seseorang itu pasti selalu ada kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya atau bahasa kerennya adalah “need for actualization”.
Dan apa pentinya saya menuliskan apa yangs elama ini muter-muter dalam sebagian otak saya, adalah kita sebagai individu harusnya lebih membuka hati dan pikiran kita karena ternyata keseimbangan hak dan kewajiban itu hrus benar-benar seimbang.
Karena selain kita memiliki hak untuk di dengar kita juga punya kewajiban untuk mendengarkan, begitupun dengan orang lain. maka berbagi kasih dan pengertianlah terhadap orang lain, minimal hanya sekedar mendengarkan meskipun tak memberi solusi dari setiap apa yang orang bagi.
dan kebiasaan orang banyak yang dibagi itu bukan kebahagiaan namun masalah. meskipu ada juga yang membbagi kebhagaiaan. :D

Aku dan Malaikat


Ketika saya termenung sendiri di tengah-tengah keramaian yang tidak sedikitpun saya rasakan. saya teringat situasi serupa yang kemudian terulang di saat ini. Saat itu tiba-tiba datang kepadaku sesosok makhluk dengan jubah hitam pekat yang menutupi wujudnya. ketakutan yang saat itu menggunung kemudian lenyap ketika ia meyakinkanku bahwa malaikatlah yang yang sedang berhadapan dengan ku. Kebingunganpun kemudian merasuk dan menguasai pikiranku, dan tanpa berfikir terlalu panjang akupun bertanya kepadanya,

“jika engkau benar malaikat, lalu kenapa engkau mengenakan jubah hitam yang begitu pekat, tanpa warna putih sedikitpun dan tak ada sayap di tubuhmu?”

Dia kemudian tersenyum dan berkata,

aku hanya tidak ingin manusia kemudian menilai bahwa setiap yang berpakaian putih adalah malaikat. Aku hanya ingin mengubah pemikiran manusia bahwa kebaikan itu tidak mengenal warna. Aku menyukai hitam karena mereka begitu kokoh dan tak ternoda

Lalu kenapa juga aku harus memiliki sayap, karena sesungguhnya bukan sayapmu yang bisa membawa hatimu terbang  melintasi cakrawala dan menembus surga


Seorang teman baik mendatangiku dan berkata,

“Aku merasakan kebingunan hingga aku sendiri tidak tahu apa yang membingunganku. Aku menginginkan sebentuk cinta yang bisa memberika sedikit makna pada hidupku yang sepi. Bantu aku mengisi pikiranku yang tengah sesak oleh kegelisahan. Ceritakan padaku sedikit keindahan cinta yang engkau yakini. Berbagilah denganku makna hidup sebagaimana yang selama ini pernah engkau berikan makna terhadapnya. Aku ingin mencoba menyelami pikiranmu dan berjalan menikmati perasaanmu hingga aku mengenali apa yang ada pada dirimu sebagaimana aku mengenalmu. Dan aku ingin mengenal diriku sebagaimana engkau mengenal dirimu sendiri”

Aku hanya mampu terdiam dan memamdang panorama batinku sendiri yang tak cukup subur untuk menjadi rumah bagi pohon-pohon dan bunga-bunga. Mancoba bersahabat dengan diriku yang terus mendesak menginginkan kedamaian, mencoba menenangkan batinku yang tampak memiliki keirian terhadap sesuatu dalam diriku yang memiliki kebebasan.

“Teman, sebaiknya jangan pernah engkau dengarkan kata-kataku tentang cinta karena aku tidak tahu apa itu cinta. Bagiku cinta jauh melewati level abstrak yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jangan dengarkan kata-kata orang yang pernah dilukai oleh perasaannya sendiri seperti diriku karena engkau tidak akan pernah mendapatkan apa yang engkau cari.

Aku hanya mencoba tertawa diatas penderitaanku sendiri karena hanya itulah cara untuk menghiburku. Aku bahkan terlalu menikmati mimpiku yang begitu indah yang diselimuti musim semi dan kicauan burung-burung yang memberikan harmoni di jiwaku yang membuat aku enggan untuk terbangun dan menghadapi kenyataan yang terlalu pahit untuk aku nikmati.

Lihatlah jauh kedalam mataku ketika aku sedang tersenyum dan kau akan melihat tangisan kehampaan. Jika kemudian aku menari, itu adalah tarian tak berbentuk terserah orang mengganggapnya seperti apa.

Jika kemudian engkau ingin mendapatkan apa yang kau inginkan, janganlah menginginkannya karena engkau sekali-kali tidak akan pernah mendapatkannya. Jika kau menginginkan seseorang mencintaimu seperti apa yang ada dibenakmu, lupakanlah keinginan itu, kuburlah, benamkan jauh di dasar jiwamu.

Pernahkah kamu melihat betapa indahnya tatanan semesta yang begitu harmonis? Mereka begitu teratur dengan segala ketidakteraturannya. Mereka begitu sempurna dengan segala ketidaksempurnaannya. Pahamilah itu dan engkau akan menemukan jawaban dari segala pertanyaanmu. Dan jika engkau telah menemukan jawabannya, engkau akan sadar bahwa engkau tidak akan pernah menemukan jawabannya”

%d blogger menyukai ini: